Baca Cerpen : Keris Warisan

Saya libur selama sebulan mulai pertengahan bulan lalu, karena sakit. Ditengah kegabutan, saya mulai menulis beberapa karya fiksi. Cerpen ini adalah yang pertama. Mohon maaf jika jelek. Jika ada kritik atau saran silakan tulis di komentar. Selamat membaca.


=====================================



“Dua minggu dari sekarang kami akan datang lagi. Pastikan kau ada uang !”

“Aku usahakan bang.”

“Jangan cuma usahakan. Pastikan kau bisa bayar itu utang. Kalau kau sampai tidak pegang itu uang saat kami datang, awas kau !”

“Baik. Baik bang, aku pastikan bakal ada uang jika kita bertemu lagi.”

“Ok. Aku kasih kau satu kesempatan lagi. Jika kau ingkar, sebaiknya kau sembuyikan itu leher ditempat aman !”

“Terima kasih bang.”

Di bawah genteng, di atas pintu rumah paling depan.

Entah mengapa, tiba-tiba aku teringat keris bapak. Saat penagih-penagih hutang itu mulai sering datang. Dan sesekali mengeluarkan kata-kata ancaman sambil memperlihatkan tangan-tangan kekar mereka diatas pinggang.

Aku tidak tahu dari mana bapak memperoleh keris tersebut. Mungkin dari warisan kakek, buyut atau leluhur kami yang masih ada darah bangsawan mataram, demak atau majapahit. Aku harap begitu. Atau dari hasilnya bersemedi di bawah pohon trembesi. Yang dibawahnya terdapat sumber air asin.

Sejak aku masih bocah, aku selalu penasaran dengan keris tersebut. Aku ingin tahu kenapa diwaktu-waktu tertentu bapak mengeluarkan bilah keris dari sarungnya. Menempatkannya dibawah genteng, di atas pintu rumah kami yang paling depan. Aku ingin tahu sehebat apa keris kepunyaan bapak dibandingkan keris-keris milik tokoh terkenal dalam sejarah, seperti keris Kyai Empu Gandring milik Ken Arok atau Kyai Setan Kober milik Arya Penangsang dari Jipang Panolan.

Tapi berapa kalipun aku bertanya pada bapak, tak sepatah katapun keluar dari mulutnya. Hanya diam membisu. Aku jadi takut bapak menyembunyikan sesuatu dariku. Kadang aku sempat berprasangka buruk. Bagaimana bapak mendapatkan keris itu. Apakah dengan cara tidak baik seperti menipu seorang dukun atau mencurinya dari sesama tukang semedi pencari nomor togel.

Aku jadi takut keris bapak adalah keris kutukan. Layaknya keris Kyai Empu Gandring yang membawa nasib sial kepada para pembawanya, seperti pada cerita terkenal itu.

Bapak biasa menyimpan satu-satunya keris miliknya tersebut, di rak paling atas. Di satu-satunya lemari di rumah kayu kami. Di bawah tumpukan sarung, celana, baju, dan beberapa potong celana dalam miliknya. Bersama dengan sebuah peci hitam yang sudah rompal bludrunya di beberapa bagian. Dan sebuah potongan kulit hewan. Entah hewan apa.

Kadang jika beruntung, aku dapat menemukan beberapa keping logam bulat dengan sebuah gambar gunungan wayang di salah satunya sisinya. Aku biasa mengambil kepingan-kepingan logam itu untuk aku tukar dengan beberapa sendok es tung-tung. Aku yakin bapak mengetahuinya. Tapi dia diam saja.

Pada suatu waktu aku pernah mencoba untuk mengambil keris bapak dari lemari. Saat pencarian akan beberapa keping logam bergambar gunungan wayang tidak membuahkan hasil. Dengan rasa penasaran dan perasaan takut akan terkena kutukan. Serta rasa was-was jika tiba-tiba seekor harimau muncul kemudian menerkam punggungku. Aku mulai mengeluarkan bilah keris bapak dari sarungnya.

Rasa takut dan was-was berubah jadi lega saat bilah keris berhasil tercabut dari sarungnya. Tanpa ada semburan cairan asam yang membutakan mata atau makhluk bertaring pedang yang berdiri siap menerkam di balik punggungku.

Tapi rasa itu seketika berubah jadi rasa kecewa. Saat aku tahu bahwa bilah keris itu hanyalah sebuah besi tua, polos tanpa adanya ukiran kepala naga atau makhluk mistis lainnya. Bahkan terdapat karat di beberapa bagiannya. Bukankah keris bangsawan ada ukiran hewan di bilahya ? Konon katanya, salah satu keris Pangeran Diponegoro berukir kepala naga.

Aku merasa kasihan pada keris ini. Walaupun satu-satunya pusaka yang mungkin dimiliki bapak. Aku tidak pernah melihat bapak memandikannya dengan air kembang di tahun baru jawa. Atau mengusapnya dengan minyak untuk mengusir karat dari tubuhnya. Apalagi menyalakan dupa.

Perlakuan bapak kepada cangkul, kapak, dan alat pertukangannya terasa lebih mewah. Jika dibandingkan dengan keris ini. Paling tidak bapak akan menyiram alat-alat tersebut dengan air dingin. Menaburi mereka dengan bedak. Di pagi-pagi buta hari raya idul fitri. Atau tepung beras jika emak tidak mau membagi bedaknya.

Meskipun begitu daya magis keris bapak menurutku tetap luar biasa. Saat musim hujan datang lebih awal di bulan september. Dengan membawa angin kencang dari utara. Bapak akan menempatkan bilah keris di bawah genteng, diatas pintu rumah kami yang paling depan. Disaat beberapa rumah tetangga kami roboh. Kami harus bersyukur hanya beberapa genteng yang terbang bersama angin.

Pernah suatu ketika para lelaki dewasa tidak berani tinggal di rumah-rumah mereka. Termasuk bapak. Bapak berpesan padaku untuk bilang tidak tahu. Jika dalam beberapa hari kedepan ada orang mencarinya. Kemudian menaruh bilah kerisnya dibawah genteng, di atas pintu rumah kami yang paling depan, lalu pergi entah kemana.

Menjelang sore sehari kemudian, beberapa anggota polisi hutan, perhutani, dan mungkin saja anggota polsek dan brimob datang ke desa kami. Dari balik lubang papan kayu di rumah kami, aku melihat mereka masuk ke rumah-rumah warga. Kemudian keluar dengan membawa beberapa potong balok kayu dan papan. Dari kayu jati atau mahoni.

Saat mereka mulai dekat dengan rumah kami. Emak menutup rapat pintu rumah dan menguncinya. Kemudian menuntunku dan seorang saudara lai-laki tuaku masuk kedalam glodok, sebuah kotak dari kayu untuk menyimpan gabah. Berpesan untuk tidak membuat suara apapun, kemudian menutup glodok, meninggalkan kami dalam kegelapan.

Sambil menahan rasa ingin kencing, haus, dan lapar aku mencoba untuk menerka-nerka apa yang terjadi di luar. Tetapi hal itu malah membuatku jadi berpikir yang tidak-tidak. Aku takut terjadi apa-apa pada emak, bapak, dan para penduduk desa lainnya.

Rasa lega baru datang setelah bapak membuka pintu kotak penyimpanan gabah itu menjelang tengah malam. Bapak mengeluarkan aku dan saudara lelakiku satu persatu. Menggendong kami ke sebuah dipan, dimana emak sedang menyiapkan beberapa potong bengkoang dan singkong bakar. Mungkin bapak memperolehnya dari hutan. Bentuk bengkoangnya tak beraturan tak secantik bengkoang yang biasa dijual di pasar.

Setelah menurunkan kami, bapak lantas pergi, dimana emak mengekor di belakangnya. Ku ambil sepotong singkong bakar. Segera ku ikuti mereka menuju dapur. Kulihat bapak memanjat sebuah tangga kayu. Memandangi tumpukan jagung yang sengaja tidak dikupas kulitnya. Beberapa meter diatas tungku tanah liat dimana emak biasa memasak.

“Semua aman. Bahkan polisi-polisi itu tidak ada niatan untuk memeriksa rumah kita. Mereka hanya berlalu lalang seolah rumah kita tidak ada.” begitu kata emak.

Bapak hanya tersenyum sambil memelintir kumisnya.

“Segera temukan orang yang mau membeli kayu-kayu itu. Kasihan anak-anak jika suatu saat kau kena razia dan dibawa polisi-polisi itu.” kata emak lagi.

Jika aku memiliki keris bapak, akankah para penagih hutang itu berhenti datang ? Sama dengan para polisi yang melewatkan rumah kami saat melakukan razia. Padahal banyak kayu curian di dalamnya.

Sayang kini bapak telah tiada. Dan aku tak mewarisi kerisnya.

***********************

“Kang, pinjamkan keris bapak padaku.” kataku saat bertemu dengan saudara lelakiku di rumahnya.

“Keris apa? Aku tidak paham maksudmu.” jawabnya.

“Keris tolak bala. Atau apalah namanya. Biasanya bapak menggunakan keris itu saat musim angin atau maling.”

“Mau kau gunakan apa keris itu ?”

“Aku berhutang pada beberapa orang. Kini aku kesulitan membayar mereka.”

“Kau ingin menukar keris itu dengan hutang-hutangmu ? Berapa banyak mereka mau membayarnya dengan uang ?”

“Tidak. Aku tidak berniat menukarya dengan hutang-hutangku atau dengan apapun. Aku hanya ingin meminjamnya untuk aku taruh di rumahku. Agar para penagih hutang itu jadi buta matanya dan pincang kakinya, sehingga berhenti datang untuk sementara. Sampai aku ada uang untuk melunasinya.”

“Ha..Ha..Ha.. Jika benar keris itu bisa membutakan mata para penagih hutang, seharusnya ku kutuk jasad bapak di kuburannya. Kenapa dia tidak dari dulu meminjam berjuta-juta uang dari bank. Atau dari orang-orang kaya pelit di desa kita. Kemudian meminta keris tersebut untuk mengusir mereka jika menagihnya. Tidakkah kau ingat bagaimana kita harus menangis sambil berguling di tanah saat kita meminta emak untuk membelikan sate seperti anak-anak kaya itu ?”

“Lupakan hal itu terlebih dahulu. Yang paling penting sekarang kau punya kerisnya atau tidak ?”

“Dengarkan nasehat saudara tua mu ini. Tidak baik menumpuk hutang. Lebih baik kita mati kelaparan daripada hidup mewah dari uang hasil berhutang.”

“Aku tidak butuh nasehatmu. Aku hanya ingin tahu kau punya keris bapak atau tidak ?!”

“Jual rumahmu yang di kota itu. Lunasi hutangmu. Jika ada sisa belikan tanah di desa. Kebetulan lek Sardin akan menjual sawahnya. Jika kau mau aku bisa membujuknya agar kau dapat harga lebih murah.”

“Hentikan ceramahmu. Jawab pertanyaanku sekarang juga. Kau punya keris bapak atau tidak ?!”

“Lagi pula kita ini orang desa. Dari mengolah tanah, memancing di sungai, dan mengambil apa yang tumbuh di hutanlah kita seharusnya hidup. Begitulah apa yang dilakukan bapak, kakek, buyut, dan para orang-orang tua. Kota hanya tempat para bajingan saling memangsa sesamanya. Jika kau lama hidup di sana, saudara tuamu ini takut kau akan jadi salah satunya.”

Cih. Menyebalkan. Percuma bicara dengan makhluk satu ini. Meskipun dia menyimpan keris bapak, aku ragu dia mau meminjamkanya padaku.

Aku masih ingat dengan jelas peristiwa saat itu. Saat aku mencoba merebut beberapa buah jambu dari genggamannya, karena dia tidak mau berbagi walaupun emak mengatakan untuk berbagi denganku. Aku masih bisa merasakan dengan sangat jelas saat ludah najisnya menyembur dari mulut busuknya menuju mukaku.

“Aku pulang.” kataku sambil beranjak dari kursi.

“Minum dulu kopimu. Iparmu sudah capek-capek membuatnya. Minumlah walau seteguk biar dia senang.”

Aku terus melangkahkan kakiku dengan cepat. Agar bisa sesegera mungkin keluar dari rumah ini. Mengabaikan semua kata-kata yang keluar dari mulut pemiliknya. Langkah demi langkah aku ayunkan. Membawaku menuju pintu keluar. Dengan jelas aku lihat sebuah keris ada disana. Tepat di bawah genteng di atas pintu. Aku tidak bisa melihat bilahnya. Karena masih terbungkus dalam sarung. Tapi aku yakin, itu pasti keris milik bapak.

Sialan. Kenapa dia tidak memberitahuku kalau dia menyimpannya. Haruskah aku mengambilnya dengan paksa ? Ya. Aku harus mendapatkan keris bapak, tidak peduli apapun caranya. Kalau perlu aku akan mencurinya. Dan akan ku pastikan ludah najis dari makluk yang menyebut dirinya saudara tua itu tak akan mengenai wajahku untuk kedua kalinya.


Bojonegoro, 13 Oktober 2020

Tulisan Serupa

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *