Baca Cerpen : Teknisi Sabun

Keraguan memenuhi dada Seno dan kebingungan menyerang kepalanya, saat ia berjalan di sebuah perumahan, di sebuah kota dengan kata gadis sebagai julukannya. Mengikuti seorang gadis yang baru saja ia kenal pagi ini. Bukan. Ini bukan kencan. Jika Seno seberuntung itu, memiliki kesempatan mengencani gadis di depannya saat ini, yang ia anggap cantik, ia akan memilih untuk mentraktirnya semangkuk bakso sambil mendengar gemuruh dan indahnya air terjun, atau sebuah kelapa muda sambil menikmati halusnya pasir pantai dan deburan suara ombak. Bukan membawa sebuah kardus berisi kompor gas dua tungku, sambil membunyikan bel setiap rumah di perumahan itu.

Gadis cantik itu, yang memperkenalkan dirinya sebagai Nisa, adalah seorang trainer yang ditunjuk seorang petinggi di sebuah perusahaan dimana Seno melamar sebagi teknisi sehari sebelumnya. Perusahaan yang tak pernah Seno tahu namanya. Jika saja Seno tidak kehabisan uang hasil menjual beberapa kambing ayahnya untuk merantau ke kota ini, sedangkan ia tak kunjung mendapatkan pekerjaan, bahkan panggilan wawancarapun belum pernah ia terima, Seno tak akan berjalan tanpa arah menyusuri jalanan kota, yang kemudian tanpa ia sadari sampailah ia di sebuah komplek pertokoan, dimana salah satu penyewanya memasang sebuah spanduk besar, yang berisi iklan sebuah perusahaan berkembang sedang membutuhkan beberapa profesional muda untuk bergabung sebagai manager, supervisor, accounting, teknisi, dan administrasi.

Sebagai seorang yang baru saja lulus dari sekolah kejuruan dengan jurusan teknik mesin, ia tentu tahu tidak banyak perempuan mengambil jurusan yang sama dengan dirinya. Dengan hati yang tulus Seno menaruh respek yang dalam pada gadis bernama Nisa ini. Di usianya yang masih muda, mungkin dua atau tiga tahun lebih tua dari Seno, ia sudah mencapai level trainer. Seorang pelatih, orang yang dipercaya perusahaan untuk membagikan pengetahuan dan pengalamannya kepada pemula, seperti Seno. Apalagi setelah gadis itu dengan ramah mentraktir Seno sarapan seporsi rawon di sebuah warung seusai sesi perkenalan. Dalam hati, tentu saja Seno merasa malu. Tetapi karena alasan dompetnya yang semakin menipis, tentu dia tidak bisa menolak setiap kebaikan yang ditawarkan padanya.

“Suatu saat aku harus mentraktir balik gadis ini dengan makanan yang lima kali lipat lebih enak dari rawon kaki lima ini,” tekad Seno dalam hati. “Kira-kira berapa ya penghasilannya sebulan ?” pikir Seno tanpa berani menanyakannya langsung kepada yang bersangkutan.

Itulah kenapa, Seno hanya bisa mengangguk dan menurut bak kerbau yang di cucuk hidungnya saat gadis itu memintanya untuk membawa sebuah kardus berisi kompor gas, sedangkan ia sendiri membawa satu kardus yang lain, kemudian naik ke sebuah angkot yang Seno kira menuju bengkel milik perusahaan, tapi tak tahunya malah berhenti di sebuah perumahan di pinggiran kota.

“Mungkin bengkel itu ada di dalam perumahan” pikir Seno dalam hati.

Tetapi saat Seno menyadari bahwa tak ada sebuah bengkel di perumahan itu, dan si gadis Nisa malah berhenti di beberapa rumah, kemudian membunyikan bel dan berusaha untuk masuk ke dalam agar bisa mengobrol dengan pemiliknya, mulai timbul keraguan di hatinya.

“Maaf. Apakah kita akan melakukan perbaikan langsung di rumah warga ?” tanya Seno pada Nisa. “Aku lihat kita tak membawa peralatan perbengkelan sama sekali” Seno menambahkan.

“Kau tak perlu risau. Cukup diam di situ, dengarkan perkataanku dan ikuti setiap perintahku. Suatu saat kamu akan mengerti” ujar Nisa pada Seno.

“Baik” balas Seno penuh keraguan.

“Permisi ibu bisa minta waktunya sebentar ?” kata Nisa dengan ramah saat seorang ibu-ibu paruh baya menemuinya, setelah beberapa kali Nisa menekan bel di depan gerbang rumahnya.

“Ada apa ya mbak ?” balas ibu itu dari balik gerbang.

“Bisa kami masuk ibu, tidak enak bicara sambil berdiri” balas Nisa.

Ibu itu dengan pelan membuka kunci pintu gerbang, mempersilakan Seno dan Nisa masuk, kemudian meminta mereka duduk di kursi mengelilingi sebuah meja di teras rumahnya. “Teras yang bagus” pikir Seno sambil memperhatikan beberapa bunga dalam pot di sekitar teras itu.

“Selamat siang ibu. saya Annisa dan ini rekan saya Suseno” kata Nisa memperkenalkan diri.

“Selamat siang ibu” sapa Seno berusaha seramah mungkin.

“Kami dari CV. Gemilang Sentosa akan melakukan sebuah survei ibu. Dimohon kerja samanya” kata Nisa sambil menyerahkan sebuah surat yang dilaminating dengan rapi kepada pemilik rumah.

“Survei ?” pikir Seno kaget. “Oh. Pantas saja kita tak membawa peralatan bengkel. Cuma survei toh” pikir Seno lega.

Ibu pemilik rumah menerima surat dari Nisa, membacanya sekilas kemudian memandang Nisa dan Seno bergantian. “Survei apa ya ?” tanya ibu pemilik rumah pada Nisa.

“Apakah ibu pengguna sabun Gift ?” tanya Nisa penuh harap kepada ibu pemilik rumah.

“Iya”

“Sudah berapa lama ibu ?”

“Sudah lama sekali. Mungkin sejak ibu masih gadis. Kenapa ya ?”

“Boleh lihat ibu, apakah masih ada bungkusnya sebagai bukti ?”

“Wah. Kurang tahu ya. Ibu tidak pernah simpan”

“Tolong usahakan untuk dicari ibu” kata Nisa dengan nada memelas.

“Sebentar ya” kata ibu pemilik rumah setelah berpikir beberapa saat, lalu meninggalkan Nisa dan Seno.

Seno masih belum bisa mencerna percakapan kedua perempuan itu. Apa hubungan seorang lulusan teknik mesin, survei, dan sabun dengan lowongan teknisi yang baru saja ia lamar. Untuk mengalihkan kebingungannya, Seno mencoba untuk memandang beberapa tanaman di sekitar teras. Ada beberapa tanaman bunga, sebagian Seno tahu namanya, seperti bunga sepatu dan bunga matahari. Sebagian lagi tak ada dalam daftar bunga dalam ingatannya, yang paling menarik perhatian Seno adalah beberapa pot tanaman strawbery dengan beberapa buahnya yang tampak ranum. “Benar-benar teras yang bagus” pikir Seno.

Ibu pemilik rumah kembali, meletakkan sebuah bungkus sabun yang tampak basah dengan beberapa bagiannya yang sudah rompal di atas meja, serta beberapa teh yang di kemas dalam gelas plastik.

“Silakan” kata ibu pemilik rumah.

“Apa yang kau persilakan ? Bungkus sabun atau teh dalam gelas ?” protes Seno dalam hati.

Nisa, yang ada disamping Seno, mengambil sebuah kemasan teh menusuk tutupnya dengan sebuah sedotan, kemudian meminumnya agak lama. Setelah isi kemasan teh itu berkurang hampir separuhnya, Nisa berdiri dari kursinya, mengambil kardus kompor gas yang sudah ia bawa hampir setengah hari ini. Lalu menaruhnya di atas meja, diantara ibu pemilik rumah dan dirinya.

“Kenapa kau abaikan bungkus sabun itu ?” komentar Seno dalam hati mengenai tingkah Nisa, trainernya. “Bukankah kau yang meminta ibu pemilik rumah untuk mencarinya ?”

“Selamat ibu. Sebagai pengguna setia sabun Gift, ibu berhak untuk mendapatkan hadiah berupa kompor gas dua tungku model terbaru ini. Yeai” kata Nisa dengan riang sambil bertepuk tangan.

“Wah yang bener. Terima kasih ya” kata ibu pemilik rumah, sambil beranjak dari kursinya, menyambut kompor gas dua tungku yang diletakkan Nisa di atas meja.

Seno tidak bisa tidak ikut merasa senang melihat keceriaan kedua perempuan itu. Ia ingin berdiri dari kursinya kemudian ikut bertepuk tangan dan memberi selamat kepada ibu pemilik rumah. Tapi ia mencoba untuk menahan diri.

“Tapi ada syaratnya ibu. Di luaran harga kompor gas ini adalah tiga ratus ribu rupiah. Karena ibu adalah pengguna setia sabun Gift, ibu cukup menggantinya dengan nilai seratus lima puluh ribu rupiah saja” ujar Nisa.

“Yah. Katanya hadiah kok harus bayar ?” kata ibu pemilik rumah agak kecewa, kemudian kembali duduk di kursinya.

“Benar. Yang namanya hadiah harusnya gratis dong” kata Seno dalam hati, mendukung ibu pemilik rumah.

“Kalau ibu beli di luar, ibu tidak akan dapat harga segitu lo bu. Gimana ibu mau ambil hadiahnya ?” pancing Nisa.

“Ibu sih sebenarnya pengen. Tapi gimana ya ?”

“Ambil saja ya bu, daripada nanti nyesel” ujar Nisa dengan agak memelas.

Ibu pemilik rumah tampak seperti orang kebingungan, begitupun Seno, dia tidak tahu harus berkomentar apa mengenai adegan yang baru saja terjadi di depannya. Sementara itu, Nisa dengan santainya mengambil teh dalam kemasan dari meja kemudian menyedot isinya.

Ibu pemilik rumah beranjak dari kursinya, lantas pamit masuk ke dalam rumah. Masih dalam posisi menikmati teh dalam kemasan, Nisa menyenggol tangan Seno, kemudian dengan dagunya menunjuk teh di atas meja. Seno mengerti kode tersebut, segera ia ambil teh dalam kemasan itu, ia tusukkan sebuah sedotan di bagian penutupnya, kemudian menyedot isinya, membiarkan kandungan gulanya diserap oleh otaknya, dengan harapan segera sadar dari kebingungannya.

Setelah beberapa saat ibu pemilik rumah keluar, dengan segera Seno meletakkan teh dalam kemasan ke atas meja, kemudian memberikan senyum terbaiknya. Ibu pemilik rumah memberi senyum balik, kemudian ijin pamit lagi. Kali ini ia menuju gerbang, membuka pintunya, kemudian berjalan ke arah rumah tetangga. Dari teras ibu pemilik rumah, Seno dapat mendengar teriakan-teriakan perempuan itu memanggil nama tetangganya. Nisa tampaknya begitu menikmati sajian teh dalam kemasan itu, kini ia telah menyedot kemasan teh yang kedua. Sementara itu perut Seno agak sedikit mulas tanpa alasan yang jelas.

Ibu pemilik rumah kembali dari rumah tetangga, tak lama setelah Nisa menghabiskan teh dalam kemasan keduanya, dan bersiap untuk yang ketiga. Kali ini wajah ibu pemilik rumah tampak ceria, tidak seperti saat ia meninggalkan Seno dan Nisa. “Apa yang dilakukan tetangga sebelah, sehingga dalam sekejap ibu itu yang tadinya tampak kebingungan jadi ceria” pikir Seno.

“Ibu jadi ambil hadiahnya ya” kata ibu pemilik rumah sambil menyerahkan beberapa lembar uang dalam berbagai pecahan.

“Wah. Terima kasih ibu” ucap Nisa sambil menerima uang tersebut, lantas menghitungnya. “Uangnya pas ya bu” kata Nisa sambil merapikan uang itu, kemudian memasukkannya ke dalam sebuah tas. Dari dalam tas, Nisa mengeluarkan kuitansi, mengisinya lalu meminta ibu pemilik rumah untuk tanda tangan.

“Kita ambil foto dulu ya bu” kata Nisa setelah ibu pemilik rumah selesai tanda tangan, kemudian merobek sebagian kuitansi tersebut dan menyerahkanya kepada ibu itu. “Seno ambil foto kita berdua yang bagus” kata Nisa sambil menyerahkan sebuah kamera saku kepada Seno, lantas mengambil tempat duduk di samping ibu pemilik rumah, kemudian siap-siap mengambil pose bersama ibu pemilik rumah yang memegang kuitansi di tangannya.

Seno dengan semangat yang dipaksakan berusaha untuk mengambil gambar terbaik kedua perempuan itu bersama dengan sebuah kardus kompor gas dua tungku di depan mereka.

Di sebuah jalan masih di perumahan yang sama dengan ibu penerima hadiah kompor gas dua tungku, Seno merenung memikirkan kejadian yang baru saja ia alami. “Apakah ini adalah model pelatihan yang tepat bagi seseorang yang melamar sebagi teknisi ?” pikir Seno dalam hati. “Apakah perusahaan salah mengira bahwa ia melamar di bagian administrasi ?”

Nisa yang sekarang berjalan di depan Seno seperti merasakan kegelisahan Seno. “Tidak usah dipikirkan. Cukup perhatikan dan ikuti perintahku. Suatu saat kau akan mengerti” kata Nisa mencoba untuk menghilangkan kegelisahan Seno. Kemudian dengan beban kompor gas dua tungku yang sudah hilang dari tangannya, Nisa dengan semangat membunyikan bel setiap rumah di sepanjang jalan. Seno ingin mempercayai kata-kata trainernya, tapi entah mengapa ia sulit untuk melakukannya.

“Apakah ibu pengguna sabun Gift ?” tanya Nisa kepada ibu yang lain di ruang tamu rumahnya.

“Tidak” jawab pemilik rumah.

“Wah. Sayang sekali ibu. Seandainya ibu pakai sabun itu, ibu berkesempatan untuk mendapat hadiah berupa kompor gas dua tungku. Walaupun tidak benar-benar gratis sih” pikir Seno dalam hati.

“Biasanya pakai sabun apa ibu ?”

“Luxury. Ada apa ya ?” tanya ibu pemilik rumah.

“Apakah bungkusnya masih ada ibu ?” tanya Nisa mengabaikan pertanyaan pemilik rumah.

“Tidak ada. Biasanya sih sesudah di buka langsung ibu buang”

“Kalau sabunnya sendiri masih ada kan bu ?”

“Ada. Masih ibu pakai setiap hari”

“Boleh kami lihat ibu ?”

“Untuk apa ya ?” kata ibu pemilik rumah dengan ekspresi kebingungan.

“Ijinkan kami lihat sebentar saja ibu, untuk survei” ujar Nisa, kali ini dengan nada memelas seperti sebelumnya.

Ibu pemilik rumah memandang Nisa penuh tanda tanya kemudian mengalihkan pandangannya ke arah Seno. Sebenarnya Seno agak malu menerima pandangan itu, tapi ia berusaha untuk bersikap senormal mungkin sambil berusaha memasang senyum tanpa dosa di wajahnya. “Aku tidak tahu apa-apa” gumam Seno dalam hati.

Ibu itu beranjak dari tempatnya duduk, lantas menuju ke bagian dalam rumahnya setelah meminta Nisa dan Seno menunggu sebentar. Tak lama kemudian ia kembali sambil membawa sebuah kotak dengan sabun di dalamnya, lalu meletakkannya diatas meja setelah ia memberinya alas beberapa lembar tissue.

“Selamat ibu. Sebagai pengguna setia sabun Luxury, ibu berhak untuk mendapatkan hadiah berupa kompor gas dua tungku model terbaru ini. Sekali lagi selamat ya” kata Nisa dengan penuh semangat.

“Woei. Woei. Woei. Sebenarnya hadiah ini dari siapa ? Apakah kedua merek sabun itu satu perusahaan ? Yang lebih penting lagi bagaimana kau tahu sabun itu merek Luxury ? Ukurannya saja sudah begitu kecilnya, tulisannya pun sudah tidak terlihat, apakah kau profesor sabun ? Yang bisa mengenali mereka dari baunya ?” gerutu Seno dalam hati, mengomentari tingkah trainernya.

Seno teringat kejadian pagi ini saat ia datang ke ruko tempat ia melamar kerja. “Perusahaan macam apa ini ? Pagi-pagi buta karyawannya sudah bernyanyi sambil menabuh drum” gerutu Seno.

Bojonegoro, 15 November 2020

Tulisan Serupa

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *